Peran Perempuan Dalam Mendorong Kebijakan Pengendalian Tembakau Saat Ini

Berbicara tentang tembakau, pasti tentunya kita akan membidik satu hal yang kaitannya sangat erat yaitu rokok. Seperti yang kita ketahui, keberadaan rokok dari dulu sampai sekarang selalu menuai pro dan kontra. Bagian pro tentu saja berasal dari para perokok aktif, penerima keuntungan dari perputaran uang rokok dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Sedangkan pihak kontra jelas berasal dari orang-orang yang tidak suka dengan merokok, kelompok yang merasa dirugikan karena asap rokok dan lain sebagainya. Apalagi masih banyak para perokok aktif yang sedang merokok di tempat umum.

Sebagai perempuan, jujur saya terganggu sekali jika berada di tempat umum, namun para perokok aktif tersebut melakukan aktifitas merokoknya tanpa melihat keadaan sekitar. Dari sinilah, saya tertarik untuk mengikuti diskusi dalam program ruang publik KBR melalui siaran berjaringan dari Kantor Berita Radio (KBR) edisi Senin, 13 Mei 2019 dengan mengangkat tema “Keterlibatan Perempuan Dalam Mendorong Kebijakan Pengendalian Tembakau Yang Lebih Baik”

Pada program ruang publik tersebut, turut hadir Gatari Dwi Hapsari dari Program Officer Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T), Luluk Ariyantiny yang merupakan Ketua Umum Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo (Yayasan PPDIS) dan Direktur Program Peduli Disabilitas dengan Mitra Pilar PR Yakkum-The Asia Foundation yang didukung Pemerintah Australia DFAT serta dari Komisioner Komnas Perempuan yakni Adriana Venny Aryani.

Berangkat dari kepedulian dan keprihatinan akan menurunnya kesehatan dan kualitas hidup perempuan dan anak Indonesia akibat terpapar asap rokok, lahirlah organisasi Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau atau yang akrab disingkat dengan JP3T. Organisasi ini menginisiasi sebuah gerakan puan muda yang beranggotakan perempuan dan anak muda usia 16 sampai 23 tahun. Tujuannya adalah untuk mengadvokasi kementerian-kementerian teknis terkait untuk mendorong pembuatan kebijakan pengendalian tembakau.

Alasan JP3T melibatkan perempuan dalam upaya pengendalian tembakau karena menurut Gatari selaku progam officer JP3T bahwa perempuan telah menjadi target industri rokok. Jika sebelumnya, target dari industri rokok adalah laki-laki dengan kategori dewasa dan usia di atas 18 tahun, maka saat ini industri rokok telah mencoba memperluas pasarnya dengan menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai targetnya. Dari situlah, gerakan JP3T bergerak untuk menyuarakan dan melibatkan diri dalam upaya mendorong pengendalian tembakau.

Alasan lain JP3T menggaet perempuan muda untuk terlibat karena perempuan dan anak muda itu dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan mereka adalah kelompok-kelompok yang harus didengarkan oleh pembuat kebijakan.
“Dari beberapa kurun waktu terakhir bahwa privalensi perokok perempuan meningkat setiap tahunnya. Kita bisa melihat di Riset Kesehatan Dasar. Tahun ini naik menjadi 4,3%.” Tambah Gatari.

JP3T melalui Gatari mengatakan bahwa kebijakan yang patut diambil itu tidak hanya di ranah pusat juga diranah daerah. Misalnya kebijakan diranah pusat dengan menaikan cukai rokok dengan mengadvokasi secara terus menerus dikementrian keuangan untuk menyelamatkan generasi kini dan mendatang. Pemerintah Daerah diadvokasi untuk membuat PERDA KTR (Pemerintah Daerah Kawasan Tanpa Rokok) sehingga ada pihak – pihak yang terlindungi.

Keberadaan organisasi JP3T memang masih menuai pro dan kontra. Meskipun demikian, Gatari dan para anggota JP3T tidak lantas memusuhi justeru mengajak kelompok yang masih kontra itu untuk menjalin kerjasama dan menyatukan visi untuk Indonesia yang lebih baik dengan cara mengendalikan Tembakau. Melalui Gatari, JP3T berharap sebelum memasuki tahun 2030 Indonesia sudah bebas dari Tembakau. Adapun Gatari mengatakan pihak-pihak yang berdiri untuk mengabulkan kebijakan ini adalah pertama Presiden Republik Indonesia terpilih dan Bapenas.

Keberadaan rokok juga harus menjadi perhatian, terlebih dampak negatif yang ditimbulkan terhadap kelompok rentan yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, lansia dan penderita penyakit yang disebabkan oleh asap rokok yang ditimbulkan oleh perokok aktif. Salah satu cara efekti untuk melindungi kelompok rentan adalah menaikkan cukai rokok, sehingga harga rokok menjadi mahal, sehingga anak-anak dan kelompok masyarakat ekonomi menengah kebawah tidak mampu untuk membeli dan membuat mereka untuk berpikir seribu kali untuk membeli rokok yang harganya sudah sangat mahal. Sehingga mereka akan mendahulukan kebutuhan keluarga yang lebih penting seperti mencukupi asupan gizi agar seimbang.

Selain Gatari dari JP3T, ada juga Komisioner Komnas Perempuan yakni Ibu Adriana Venny Aryani. Ibu Venny mengatakan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia pemerintahan dan politik sejauh ini upaya perempuan dalam menentukan sebuah kebijakan. “Persoalannya adalah apakah kaum perokok ini mau mendengarkan aspirasi dan suara perempuan atau tidak. Misalnya di parlemen representasi perempuan itu 30%. Namun implementasinya di lapangan tidak sampai pada angka 30%.” Tambah Ibu Venny.

Dari diskusi kali ini, saya semakin tahu bahwa masyarakat Indonesia khususnya para perokok aktif masih memiliki kesadaran yang rendah terhadap kebijakan yang sudah ada. Seperti masih banyak perokok yang merokok di ruangan fasilitas umum. Dan perempuan itu memiliki peran yang sangat penting untuk melindungi keluarga dari paparan asap rokok. Untuk itu, jadilah satu dari banyak perempuan yang mengambil peran dan menyuarakan kebijakan pengendalian tembakau agar menjadi lebih baik sehingga kebijakan tersebut dapat terwujud.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.