Dwi Afifatun Naja
Kesehatan,  Parenting

Pengalaman Melahirkan Ketika Wabah Corona Melanda

Hamil merupakan salah satu hal yang sangat dinantikan oleh seorang wanita yang telah menikah. Tidak terkecuali aku sendiri. Namun bagaimana rasanya ketika hamil di tengah wabah pandemi corona? Jujur saja hal ini tidak pernah terpikirkan sama sekali. Sebab aku pikir Indonesia akan aman dari virus corona. Oleh karena itu ketika virus corona mulai masuk Indonesia aku sempat merasa bingung, panik, takut dan khawatir.

Rasa khawatir semakin menjadi ketika dikatakan virus corona cukup berbahaya bagi wanita hamil. Akibatnya aku mengurungkan niat untuk kontrol ke dokter kandungan selama dua bulan. Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena khawatir akan terpapar virus corona ketika pergi ke rumah sakit. Seperti kita tau bahwa di rumah sakit ada berbagai macam penyakit yang mengintai apabila kondisi tubuh kita lemah. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk kontrol ke dokter pada bulan berikutnya. Aku mengambil keputusan ini karena kondisi kehamilan yang mulai membesar dan terasa sangat aktif. Setibanya di rumah sakit, aku cukup terkejut melihat keadaan rumah sakit yang sangat ramai.

Kursi-kursi tempat menunggu penuh dipadati oleh pengunjung rumah sakit. Bahkan banyak pula pengunjung yang harus berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Sebuah pemandangan yang tidak terduga olehku! Setelah dua kali kontrol kehamilan, akhirnya waktu melahirkan tiba. Apabila ada yang bertanya bagaimana rasanya ketika harus melahirkan ditengah wabah pandemi corona. Tentu saja jawabannya adalah khawatir. Apalagi isu-isu yang beredar diluar sana bikin jantung semakin deg-degan. Benar-benar membuat pikiran menjadi runyam. Apalagi mengetahui dokter kandungan yang selama ini menanganiku merupakan salah satu dokter yang bertugas untuk covid-19. Fakta ini membuatku galau memilih tempat persalinan kelak.

Beberapa teman menyarankan aku untuk melahirkan di bidan saja. Sebab mereka pikir bidan lebih aman dari ancaman virus corona. Walaupun sempat galau, akhirnya aku bersiteguh ingin melahirkan di rumah sakit agar lebih tenang.

MENUJU HARI PERSALINAN

Hari persalinan tiba. Tepat pukul 01.00 dinihari perutku terasa mulas tak tertahankan. Aku, suami, mama dan om segera meluncur ke rumah sakit. Sesampainya disana, petugas langsung menanyakan surat keterangan sebelum masuk IGD. Alhamdulillah, aku sempat memintanya kepada dokter di hari terakhir kontrol. Kurang lebih 15 menit menunggu, aku akhirnya diperbolehkan masuk ke ruang IGD dan di screening terlebih dahulu. Ada dua screening yang aku lakukan yaitu tes darah dan rapid test untuk covid-19.

Alhamdulillah kedua hasil tesnya bagus. Selanjutnya suster kemudian mengecek pembukaan dan ternyata aku sudah pembukaan empat! Sontak aku bertanya kepada suster, ‘sus, biasanya ke pembukaan lengkap butuh berapa lama ya?’. Lalu suster menjawab, ‘wah tergantung kontraksinya bu, biasanya 4 jam sih. Tapi bisa lebih cepat juga kalo mulasnya bagus’. Hmm cukup lama juga menurutku. Aku pikir dalam waktu 4 jam itu diperbolehkan istirahat di ruang rawat. Eitsss salah besar! Ternyata kalo sudah pembukaan 4 gini, aku akan langsung dibawa ke ruang persalinan.

Jam dua dinihari aku dibawa ke ruang persalinan oleh suster yang sedari tadi sudah menggunakan alat perlindungan diri lengkap. Di ruanganĀ ini aku dipasangi alat untuk mendengar detak jantung bayi dan alat untuk merekam riwayat kontraksi. Berbeda dengan kehamilan pertama, kali ini aku bisa lebih tenang saat dipasangi alat-alat tersebut. Walaupun rasa mulas akibat kontraksi semakin menjadi-jadi, nyatanya aku bisa menahannya. Satu jam berlalu, akhirnya pembukaanku lengkap! Suster yang saat itu menemani menyuruhku untuk mengejan apabila merasakan mulas. Kurang lebih sejam aku mengejan, bayiku tak kunjung keluar juga. Di sisi lain, dokter kandunganku juga belum tiba di rumah sakit. Hanya bersama dua bidan dan dokter jaga saja aku berusaha melahirkan anak keduaku.

Lemas, kehabisan energi, itu yang aku rasakan. Untungnya tidak lama berselang dokter kandunganku tiba. Namun karena bayiku belum lahir juga, beliau menyarankan bidan untuk memasangkan infus dan menyuntikkan obat perangsang rasa mulas supaya kontraksi yang kurasakan lebih hebat lagi. Tapi ternyata bayiku tak kunjung keluar juga dikarenakan ritme kontraksiku yang terlalu singkat. Sampai akhirnya dokter memberikanku saran untuk di vakum. Akan tetapi, beliau berkata ‘saya usahakan ya bu, kalo tetap gak bisa ya kita sesar’. Tanpa banyak pikir aku langsung mengiyakan saran tersebut sebab ini bukan pertama kalinya aku di vakum. Jadi aku sudah tau rasanya seperti apa.

Di sisi lain, aku paling takut dengan sesar karena kakakku bilang penyembuhannya lama dan rasa sakitnya terasa hingga bertahun-tahun. Kata-kata tersebut selalu terngiang di otakku hinggat saat ini. Boro-boro sesar, induksi aja aku takut. Oleh karena itu, tekadku untuk melahirkan normal sangat besar. Alhamdulillah perjuanganku divakum tidak sia-sia karena akhirnya anakku lahir. Tepat setelah adzan subuh berkumandang, seorang bayi perempuan seberat 3,4kg terlahir ke dunia.

Dwi Afifatun Naja
Dwi Afifatun Naja
PASCA PERSALINAN

Bidan dengan sigap langsung membersihkan bayi perempuan yang aku beri nama Dwi Afifatun Naja ini. Kemudian suster langsung menaruh Naja diatas badanku untuk melakukan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini sembari dokter menjahit jalan lahir pasca melahirkan. Satu jam berlalu, jahitan sudah selesai dilakukan. Selanjutnya, bayiku Naja dibawa oleh suster menuju ruangan bayi untuk dilakukan imunisasi dan pengecekan kesehatan. Sementara aku? Yap, masih harus menunggu satu hingga dua jam sebelum masuk ke ruang perawatan.

Dua jam berlalu, tepat pukul delapan pagi aku dibawa ke ruang perawatan VVIP di lantai lima. Ternyata ruangan tersebut sama dengan ruang perawatan yang aku tempati saat melahirkan setahun lalu. Namun suasananya terasa sangat berbeda. Apabila tahun lalu aku masih bebas dikunjungi tamu, kali ini tidak. Bahkan satu kamar besar yang aku gunakan hanya bisa di isi oleh dua orang. Ini semua akibat pandemi yang sering terjadi.

Bosan, itulah yang aku rasakan selama dirawat. Bukan cuma bosan, rasa sedih dan kangen terhadap anak pertamaku yang masih berumur satu tahun juga ada. Oleh karena itu, aku meminta kepada dokter agar bisa pulang sehari lebih cepat dari waktu perawatan seharusnya. Saat itu, baik dokter anak ataupun dokter kandungan menyetujui keinginanku asalkan kondisi aku dan Naja sehat. Setelah dua hari satu malam dirawat akhirnya kami berdua dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang.

TIPS MELAHIRKAN SAAT PANDEMI

Melahirkan saat pandemi memang membuat para ibu khawatir dan cemas. Namun proses melahirkan bisa menjadi lebih aman dan tenang apabila ibu hamil memperhatikan dua hal penting yaitu kesehatan dan tempat bersalin.

Menjaga kesehatan sangatlah penting karena sistem kekebalan tubuh pada ibu hamil akan menurun dan rentan terkena infeksi. Oleh karena itu, menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, mengonsumsi vitamin dan suplemen, olahraga rutin serta tidur yang cukup merupakan hal yang penting bagi seorang ibu hamil. Perlu diketahui bahwa ibu hamil akan mengalami gejala yang lebih berat apabila terkena covid-19. Kemudian, memilih tempat bersalin juga merupakan hal yang tidak kalah penting dan harus dipikirkan secara matang. Pertimbangkan dengan baik tempat bersalin sesuai kondisi kehamilan, situasi dan layanan kesehatannya. Jangan lupa juga untuk pikirkan bagaimana risiko dan manfaat yang diperoleh dari tempat bersalin tersebut.

Masa-masa kehamilan hingga persiapan melahirkan saat pandemi memang membutuhkan perhatian lebih apabila dibandingkan dengan kehamilan pada umumnya. Namun, bumil tidak perlu khawatir yang berlebihan karena hal ini akan berpengaruh kurang baik bagi kondisi kehamilan dan janin. Oleh karena itu, selalu berpikiran positif ya bumil.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.