Henk Ngantung: Gubernur Berjiwa Seni

‘Henk Ngantung’, nama ini terasa begitu asing di telinga kita. Namanya memang tidak setenar Gubernur Orde Lama seperti Ali Sadikin. Oleh sebab itu, tidak banyak orang yang mengenal sosok beliau sebagai seorang Gubernur Jakarta. Kebanyakan orang mengenal Henk hanya sebagai seorang seniman, tidak sebagai sosok Gubernur yang sempat memimpin Jakarta selama kurang lebih sembilan bulan pada tahun 1960-an.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_schilder_Henk_Ngantung_aan_het_werk_TMnr_60054749

Kota Jakarta merupakan bagian dari politik mercusuar Presiden Soekarno sejak akhir tahun 1959. Tujuan dari politik mercusuar ialah membuat Indonesia sebagai inti dari The New Emerging Forces atau kekuatan baru yang sedang tumbuh di dunia. Demi mencapai tujuan politik tersebut, Kota Jakarta akan dibangun secantik dan sehebat mungkin untuk memperlihatkan kota ini sebagai pintu masuk dari Negara Republik Indonesia.

Untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang indah dan cantik, Soekarno menekankan pentingnya seni dalam kehidupan perkotaan yang dapat diwujudkan melalui kerapian dan keindahan tata kota. Menurut Presiden Soekarno, Jakarta harus dipimpin seorang yang mengerti pemikiran dan cita-cita Bung Karno tentang Ibukota. Selain itu, pemimpin Jakarta harus memiliki jiwa seni, kemampuan kreatif, dan sanggup mendobrak konvensi-konvensi lama demi pengembangan hal-hal yang baru. Dalam rangka mencapai hal tersebut, Soekarno menempatkan Henk Ngantung di pemerintahan Kota Jakarta.

Henk Ngantung adalah seorang seniman yang mempunyai banyak ide mengenai keindahan Kota Jakarta. Karir Henk dalam birokrasi Kota Jakarta telah dimulai sejak ia diangkat menjadi anggota Dewan Nasional sebagai kelompok fungsional untuk mewakili komunitas seniman pada tahun 1957. Selain Dewan Nasional, ia juga diangkat menjadi anggota Panitia Pembangunan Tugu Nasional, anggota MPRS, dan Front Nasional. Keterlibatan Henk dalam berbagai organisasi tersebut telah membuat ia banyak mempelajari mengenai pemerintahan.

Pada 29 Januari 1960, Henk diangkat menjadi Wakil Gubernur Jakarta berdasarkan Keputusan Presiden No. 20 Tahun 1960. Ia diangkat menjadi Wakil Gubernur agar dapat memberikan kontribusi seniman bagi kota dan menjalankan keinginan presiden sesuai dengan nota yang diberikan saat Sidang Kedua Dewan Nasional. Dalam nota tersebut dikatakan bahwa rakyat tidak hanya membutuhkan kebahagiaan materieel saja, namun membutuhkan pula kebahagiaan spirituil melalui seni dan budaya. Kegiatan-kegiatan Henk selama menjabat sebagai Wakil Gubernur Jakarta berpokok pada ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Penetapan Presiden No. 2 tahun 1960. Berdasarkan landasan ini, Henk menitikberatkan kegiatan dan usahanya dalam lingkungan pemerintahan maupun masyarakat yang berkaitan dengan pembangunan bidang mental-spirituil dan pembangunan materieel, khususnya peranan dan makna segi-segi keindahan, monumen-monumen, taman-taman, air mancur dalam kehidupan perkotaan.

Memasuki tahun 1964, posisi Henk dalam birokrasi Kota Jakarta meningkat dari Wakil Gubernur menjadi Gubernur Jakarta. Kenaikan jabatan ini terjadi setelah Presiden Soekarno mengangkat Soemarno sebagai Menteri Dalam Negeri. Pengangkatan Henk sebagai Gubernur Jakarta dituangkan dalamSurat Keputusan Presiden RI No. 217/1964 tanggal 17 Oktober 1964. Pada masa kepemimpinannya sebagai Gubernur Jakarta, Henk melanjutkan upayapengembangan kotaberdasarkan konsep geluk materieel dan geluk spirituil. Berdasarkan konsep tersebut, Henk perlu memperhatikan kebahagiaan rakyat tidak hanya melalui pemenuhan kebutuhan raga atau jasmani saja, namun harus memenuhi kebutuhan akan seni, pengetahuan dan kebudayaan.

Selama masa baktinya menjadi birokrat Jakarta sejak periode 1960 ̶ 1964 dan periode 1964 ̶ 1965, Henk telah melakukan beberapa kegiatan dalam rangka membangun Jakarta sesuai dengan konsep geluk materieel dan geluk spirituil. Beberapa kegiatan pembangunan yang dilakukan berdasarkan konsep geluk materieel adalah landreform, perluasan instalasi air minum Pejompongan, pembuatan pintu air untuk keperluan sawah-sawah dan pertanian di Kebayoran Lama, pembuatan calon kota satelit baru Cipete-Cilandak, pembangunan Proyek Pluit, pembentukan Otorita Senen dan kebijakan mengenai perumahan. Sementara pembangunan yang dilakukan berdasarkan konsep geluk spirituil antara lain penempatan kuali-kuali berisi tanaman di sepanjang Jalan Thamrin, sumbangsih Henk dalam pembuatan sketsa Patung Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia dan pembuatan sketsa Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Operasi Bersih untuk mengatasi sampah, dan upaya mengembangkan pendidikan di Kota Jakarta.

Setelah kurang lebih sembilan bulan menjabat sebagai Gubernur Jakarta, Henk Ngantung diberhentikan secara terhormat berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 208/1965 yang dikeluarkan pada 14 Juli 1965. Selanjutnya, beliau diperbantukan kepada Menteri Sekretaris Negara sambil menunggu penugasan lebih lanjut. Walaupun ia telah melakukan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan di Jakarta selama periodenya sebagai birokrat, terdapat pula beberapa ide dari Henk Ngantung yang tidak bisa direalisasikan seperti ide untuk membangun Taman Bhinneka Tunggal Ika, ide pembangunan Museum Sejarah Nasional, dan ide mengenai Rencana Induk Pembangunan DKI.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.